Da menguraikan, di pertengahan 2018 hingga awal 2020, grafik BCA out perform, lompat lebih tinggi dan meninggalkan Himbara. Saat itu LDR bank masih tinggi, Bank Mandiri dan BNI LDR-nya di kisaran 95-98 persen.
Namun tidak dengan BCA yang LDR-nya berada di angka 80 persen dan likuiditasnya bagus. “Kalau bank kesulitan tumbuh karena kesulitan funding, BCA tidak demikian, karena mempunyai profitabilitas yang lebih baik dibanding Himbara sehingga value lebih tinggi,” jelas Sigit.
Menyadari performa saham dan market cap sebagai value yang harus dijaga, lanjut Sigit, maka Bank Mandiri di 2020 merumuskan kembali visi – misi serta strategi bisnis.
“Kita visinya menjadi Patner Finansial Pilihan Utama Anda dan sudah state misinya dengan menyediakan solusi perbankan digital yang simple dan handal yang menjadi bagian hidup nasabah,” pungkas Sigit.
Disadari bahwa strategi Bank Mandiri adalah wholesale bank, maka presur terhadap yield of loan makin ketat. Maka, lanjutnya, strateginya grow beyond lending. “Mandiri tidak hanya andalkan wholesale dengan fokus pada pendapatan bunga tetap lebih dari situ dan punya kontribusi lebih dari feebase income, kita juga akan tingkatkan CASA karena presur itu tidak ba kita hindari dan switch dengan strategi beyond lending,” papar Sigit.
