Dia menjelaskan, pemerataan dimaksud adalah komoditas. Sebab, komoditas dari masing-masing daerah yang menghasilkan produk tertentu tidak sama dengan yang lainnya. Dia mencontohkan, di Brebes Jawa Tengah, suplay bawang berlimpah, tetapi di daerah lain sangat sulit dapatkan jenis produk tertentu. “Ini yang tidak membuat rantai pasok skala nasional kita berjalan dengan baik,” katanya.
Di sisi lain, delivery cost di Indonesia sangat unik dan sekaligus membuat shock. “Shipping cost antara Jakarta dan China, 400 dolar. Sedangkan kita mengiirim dari Tanjung Priok ke Padang kurang lebih 600 dolar, ke Banjarmasin 650 dlar, dan lebih mahal lagi biaya yang kita keluaran kalau produk kita kirim ke Jayapura, bisa 1000 dolar. Miris sekali dengan kondisi sekarang,” imbuhnya.
Menurutnya, hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak untuk bisa melihat apa saja yang bisa dilakukan untuk minimalisir biaya delivery tersebut. Sebab ada sejumlah tantangan dalam rantai pasok yang harus dihadapi bersama.
“Pastinya belum terintegrasi Sislognas, lalu tidak seimbangan basis industri antara Jawa dan luar Jawa. Kemudian rantai distribusi yang panjang sehingga menimbulkan ekonoi biaya tinggi. Sementara pemahaman akan manajemen rantai pasok masih sangat minim, diperberat dengan tidak meratanya pembangunan infrastruktur nasional,” pungkas Mustofa.
