Produksi minyak sawit Indonesia pada 2021 (46,8 juta ton) pun belum menyamai produksi tahun 2019 (51,8 juta ton). Sementara konsumsi minyak sawit terus meningkat, tahun 2021 sebesar 18,5 juta ton.
Dan ekspor tahun 2021 adalah 34,2 juta ton, masih di bawah rekor tertinggi ekspor tahun 2019 sebesar 35,8 juta ton. Jadi pada tahun 2021, neraca minyak sawit Indonesia (produksi dikurangi konsumsi dan ekspor) minus 5,9 juta ton, defisit terbesar dalam lima tahun terakhir.
Tetapi meskipun stok Indonesia defisit tahun lalu, faktanya produk sawit tetap yang paling berlimpah sedunia. Istilahnya “management of abundance”, tapi tetap saja manajemen pemerintah tidak serta merta mendatangkan sukses. Alokasi, sebagai ilmu dasar ekonomi tidak berjalan dengan mulus di tim ekonomi Pemerintahan Jokowi ini, terutama terlihat dalam kasus komoditi minyak goreng.
“Ini alasan lain bagi Presiden Jokowi untuk mencopot Menko Perekonomian. Sebab Menko Perekonomian adalah pejabat yang memiliki wewenang paling tinggi untuk dapat selesaikan masalah ini. Menko Perekonomian seharusnya dapat menggunakan wewenangnya untuk menekan para pengusaha sawit, tapi kenapa terlihat tidak terjadi hal semacam itu. Akibatnya yang terjadi adalah negara terlihat tunduk oleh kartel sawit yang mengatur harga minyak goreng. Negara terserap oligarki,” cetusnya.
