Letusan juga terjadi pada pengamatan enam jam kemudian pada pukul 16.00-12.00 WIB, yakni sebanyak enam kali dengan amplitudo 14-22 MM dan satu kali gempa embusan dan satu kali gempa tektonik jauh.
Untuk diketahui, pada kesempatan sebelumnya, Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, Nia Khaerani, membenarkan letusan terjadi hampir setiap hari di Gunung Semeru.
“Setiap hari terjadi letusan di Gunung Semeru dan status gunung tersebut pada Level III atau Siaga,” tandasnya.
Untuk itu, lanjut dia, PVMBG merekomendasikan agar warga tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak sebagai pusat letusan.
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Sebab PVMBG menyebutkan kawasan ini berpotensi dihantam perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu panas.
