Peserta saat ini, lanjutnya, sudah ada 20 orang kolektor, targetnya bisa lebih 150 batu bacan. “Semua peserta yang mengikuti kontes bacan ini memang yang sudah biasa mengikuti kontes batu, disini kita diwadahi komunitas juga,” tambahnya.
Untuk penilaian, sambung dia, bacan dilihat pada kategori kejernihan batunya, kebersihan, warna alami, kristal, proporsional bentuk batu dan ring yang dibentuk. “Untuk bacan yang diproses dan alami hampir mirip. Tetap dilihat dari kualitas batunya,” tuturnya.
Dalam kontes ini juga ada dipamerkan batu bacan berukuran besar. Konon cerita dari sang pemilik bacan bakal melepasnya jika ada yang menawar Rp1 miliar lebih. “Sudah pernah ada yang menawar Rp500 juta tapi tidak dilepas oleh sang pemilik bacan,” ujarnya.
Harga bacan sendiri bervariasi, mulai dari harga Rp500.000, Rp1 juta sampai miliaran rupiah. “Namun tetap bacan itu dilihat pada kualitas per satuan,” katanya.
Menurut dia, pameran dan kontes batu saat ini sudah cukup lama tertidur, terlebih ada pandemi Covid-19. “Ketika ada kesempatan kita langsung adakan, tentu dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, harus wajib masker. Biasanya sih dulu sebelum pandemi, di beberapa daerah empat kali digelar,” katanya.
