“(Bunyi) bum bum bum, gitu kan dengar nih. Sampai saya sama anak saya juga lihat-lihatan kalau ada (bunyi) bum gitu. Cuman, setelah dua minggu, kita keluar, di jalanan itu aktivitas udah ramai, udah biasa lagi,” jelasnya.
Maysaroh beruntung karena hingga saat ini persediaan pangan di pasar dan supermarket tetap tersedia. Namun, ia selalu waspada, khususnya saat berada di luar rumah.
“Dampak dari perang ini ya ngeri-ngeri sedap gitu ya, karena kalau kita jalan tuh ada militer gitu yang berseragam dengan bawa senjata gitu kan. Yang biasanya kita nggak pernah temuin, tapi di perang ini, kita udah biasa temuin,” katanya.
Ramadan di Tengah Konflik
Sudah sekitar 11 tahun lamanya Maysaroh tidak merasakan suasana syahdu bulan Ramadan di Indonesia, karena selalu merantau.
“Jarang sekali saya temukan orang muslim di (Ukraina),” cerita Maysaroh.
Berbeda dengan di tanah air, bulan Ramadan memang hampir selalu ia jalani dengan penuh kesendirian, mengingat mayoritas penduduk Ukraina adalah pemeluk agama Kristen, termasuk keluarga suami Maysaroh yang kerap khawatir melihatnya tidak makan dan minum.
