Baik Ajisatria, maupun Melvin Mumpuni sepakat, agar di tengah desakan kebutuhan ekonomi yang tinggi, masyarakat harus tetap jeli dan pintar dalam mengakses pembiayaan. Salah satunya teliti setiap ajakan dari pinjaman online ilegal, dan iming-iming investasi high return yang didapat secara instan yang diinisiasi oleh para afiliator dan influencer. Salah satu cara bijaknya adalah dengan memeriksa keabsahan izin dari lembaga OJK dan yang terkait agar legalitasnya bisa dipertanggungjawabkan.
“Mudah saja, yang good to be truth, yang sangat mudah syaratnya hanya dengan fotokopi KTP misalnya, bunga sangat rendah, sudah pasti kita harus langsung waspada,” kata Sheldon Chuan menambahkan.
Karena itu, Home Credit Indonesia, perusahaan pembiayaan berbasis teknologi, berkomitmen untuk terus meningkatkan inklusi dan literasi keuangan masyarakat Indonesia serta membantu masyarakat mewujudkan rencana dalam hidupnya melalui aneka layanan keuangan.
Home Credit sendiri mengusung transparansi atas layanan dan produknya dengan mengoptimalkan teknologi digital. Aneka layanan keuangannya antara lain; pembiayaan barang, pembiayaan modal usaha, Buy Now Pay Later (BNPL) dan asuransi. Home Credit sudah memiliki jaringan kemitraan sebanyak 22 ribu toko dan outlet, menjangkau 200 kota di tanah air dan aplikasi My Home Credit sudah diunduh lebih dari 12,5 juta orang. (timur arif)
