“Berangkat dari satu keilmuan yang sama, akhirnya kami sepakat untuk membuat film yang mengakat cerita-cerita atau persoalan-persoalan penting di masyarakat. Itu dimulai tahun 2016. Tahun 207 kita sudah produksi satu film pendek fiksi. Sebagai latar belakangnya kita buat fiksi, namun seiring proses pembuatannya, kami berpikir jika kita membuat film fiksi base true story dan akhirnya kita buat dalam bentuk dokumenter. Karena ini sesuatu yang sangat sedikit orang yang tahu dan ini adalah sebuah persoalan besar yang terabaikan,” tutur Lamtiar.
Satu hal yang ingin sampaikan dalam film Invisible Hopes adalah membuat hanya dengan satu judulnya yang sederhana tapi sulit sekali dilakukan namun yakin bisa tercapai dengan kerja sama semua pihak, bersatu.

Dari film ini, terselip sebuah kerinduan akan adanya perbaikan bagi narapidana hamil, terutama anak-anak yang harus dilahirkan dan dibesarkan di balik jeruji penjara. Film ini dibuat bukan dalam rangka menjelek-jelekan pihak tertentu, apalagi mencari-cari kesalahan pihak tertentu. Film ini menjadi alat diskusi bagi semua pihak dan bersama-sama untuk mencari solusi yang lebih baik.
