Puncak pertempuran Surabaya terjadi pada 10 November 1945, ketika pasukan Sekutu menyerang Kota Surabaya. Dalam melawan Sekutu, pejuang menggunakan beberapa senjata, salah satunya senjata tradisional bambu runcing. Bung Tomo (Sutomo bin Kartawan Tjiptowijojo) mulai pidato di radio mengajak pemuda/i bangkit melawan penjajahan Belanda. Melalui siaran langsung, setiap hari Bung Tomo berorasi membangkitkan semangat jihad. Setelah diputar berbagai lagu, kemudian Bung Tomo memuji kebesaran Tuhan. Bung Tomo punya radio yang untuk menggelorakan semangat juang rakyat.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,…” Suara Bung Tomo berapi-api bergema. Suara lantang berpidato ala Bung Karno menjadi daya tarik pendengar masa. Warga mendengar melalui radio berkotak kayu
“Andai tidak ada kalimat Takbir, saya tidak tahu dengan apa membakar semangat para pemuda melawan penjajah,” kata Bung Tomo kelahiran Surabaya 3 Oktober 1920 dan wafat pada 7 Oktober 1981.
Setelah tiga pekan, pertempuran Surabaya mulai mereda pada 28 November 1945. Pertempuran ini lebih banyak memakan korban jiwa dari Indonesia mencapai 20.000 orang. Sementara itu, korban jiwa di pihak Sekutu 1.500 orang.
