“Kalau ada turnamen, jangan tanya hadiahnya berapa. Jadi kalau tanding, pemikirannya bukan ke situ. Kalau setelah tanding, lakukan review, lalu latihan lagi, bertanding lagi, review lagi. Terus seperti itu karena tidak ada jalan lain selain berlatih. Adik-adik juga harus punya tekad dalam diri sendiri, nanti kami dari PB yang akan memberi support. Tentunya orangtua juga harus memberikan support kepada putra-putrinya agar bisa menjadi pemain andal,” tegas Eka.
Dia melanjutkan, pertandingan Perang Bintang juga sebagai pembinaan berkesinambungan yang dijalankan PB Percasi bekerjasama SCUA.
Pihaknya ingin Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dari Vietnam dan negara-negara pecahan Soviet, dimana para pecaturnya tengah menanjak.
“Saya melihat kita ketinggalan jauh dari Vietnam dan negara pecahan Soviet. Pertanyaan saya, apakah kita bisa bersaing dengan mereka? Jawabannya sangat bisa. Adik-adik harus punya tekad. Dengan ikut turnamen ini, kita akan bersaing dengan pemain yang memiliki kualitas. Ini turnamen penting, catur standar. Berbeda dengan turnamen yang hanya sehari dua hari selesai yang kurang memberi dampak,” terang Eka.
