Namun di balik itu semua ada batas-batas sejati yang ditetapkan bukan oleh politik atau penguasa turun-temurun, tetapi oleh sifat fisik planet kita. Perbatasan planet untuk spesies kita ditentukan oleh geografi dan iklim. Lebih spesifik terjadi oleh proses alamiah, bahwa secara fisik manusia ditakdirkan tak bisa hidup dalam jumlah besar di Gurun Sahara maupun Kutub Antartika. Saat suhu global meningkat akan terjadi perubahan iklim, yang menyebabkan kenaikan permukaan laut, dan cuaca ekstrem selama beberapa dekade mendatang. Sehingga dunia nantinya akan sulit dijadikan tempat tinggal bagi manusia.
Menurut analisa para pakar iklim dunia, garis pantai, negara pulau, dan kota-kota besar di daerah tropis akan menjadi yang paling terdampak, dan jika tak dapat beradaptasi dengan kondisi yang semakin ekstrim, maka jutaan bahkan miliaran orang harus pindah ke lokasi yang aman.
Berbagai sumber menyampaikan terkait jumlah penduduk, dikatakan bahwa daerah yang padat penduduknya terkonsentrasi di sekitar paralel utara 25-26, garis lintang dengan iklim paling nyaman dan tanah subur. Diperkirakan 279 juta orang memadati daratan ini, yaitu India, Pakistan, Bangladesh, China, Amerika Serikat, dan Meksiko. Akibat terjadi perubahan kondisi maka rata-rata relung iklim di mana spesies bisa hidup normal di seluruh dunia bergerak ke arah kutub dengan kecepatan 1,15 m per hari, meskipun jauh lebih cepat di beberapa tempat.

