Bukan sesuatu yang mudah untuk menghidupkan lagi kekayaan Tidore yang nyaris terlupakan. Membangun ini, kata Anita, butuh perjuangan dan niat tulus untuk menghidupkan budaya Tidore yang sudah lama hilang. Menumbuhkan rasa tanggung jawab menjaga warisan budaya Tidore menjadi cita-citanya.
“Tidore itu kan kampung kecil yang tidak ada kegiatan usaha selain jadi PNS, petani pala, cengkeh, nelayan. PR aku untuk meyakinkan orang di sana bahwa sebenarnya kerjaan bukan cuma PNS,” ungkapnya.
Ia mengisahkan butuh perjuangan tersendiri untuk menyakinkan anak-anak muda ini terlibat di Rumah Tenun. Apalagi sebagian orang tua di Tidore kerap memarahi anaknya yang belajar menenun karena dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah.
Tetapi dirinya tidak pantang menyerah. Ia menceritakan, suatu hari dirinya menerima undangan menjadi pembicara dan mendelegasikannya kepada Wani, salah satu tim Rumah Tenun. Ini menjadi kesempatan Anita untuk membuka pikiran, meyakinkan bahwa di Rumah Tenun tak hanya sekadar bekerja tapi ada pelestarian budaya di dalamnya.
