Dia mengaku, sebelum anak tewas dia sempat berupaya memberikan obat, namun parahnya luka dialami A membuatnya terus menangis kesakitan.
Dia bahkan mengaku sempat memaki A karena terus menangis kesakitan akibat luka di bagian tangan waktu jatuh ditendang, hingga akhirnya mencekik A.
“Pas dia nangis saya tabok, cubit. ‘Diem enggak lo’, aku gituin, tapi dia enggak diam-diam. Saya bikinin susu, tapi nangis lagi. Akhirnya saya cekik sekali, itu posisi pas adzan Magrib,” ucapnya.
Nurwita mengaku sadar bahwa awal mencekik putrinya sudah lemah, namun dia justru tetap mencekik A hingga akhirnya balita tidak berdosa itu meregang nyawa.
Bahkan Nurwita sempat tidur bersama jasad A di unit kontrakan kawasan Klender, Duren Sawit. Hingga Selasa (24/1), dia membawa A ke rumah neneknya di kawasan Pulogebang, Cakung.
“Pas kedua kalinya (dicekik) matanya tertutup, tangannya kelepek-kelepek langsung enggak ada nyawa. Perutnya sudah kencang, mulutnya agak pucat,” tutur dia.
Tersangka Nurwita kini mendekam di sel Mapolres Metro Jakarta Timur guna proses hukum lebih lanjut dan pelimpahan berkas perkara ke Kejaksaan.
