“Harusnya kan dengan adanya nama besar tokoh-tokoh itu bisa mendongkrak popularitas dan elektabilitas partai yang didirikannya,” tambahnya.
Berdasarkan data ini, lanjut Hidayat, bisa ditarik kesimpulan bahwa popularitas tokoh pada partai tidak bisa langsung dikonversi menjadi popularitas partai, apalagi dikonversi menjadi elektabilitas partai. Untuk itu, perlu ada terobosan dan variabel lain yang perlu dilakukan partai agar popularitas mereka makin naik.
Hidayat menambahkan karakter pemilih sekarang lebih rasional sehingga tidak bisa dipengaruhi hanya dengan variabel ketokohan semata. Pemilih umumnya akan memberikan dukungan kepada partai atau tokoh yang mempunyai program yang dibutuhkan.
“Semakin banyak program yang bisa dirasakan oleh masyarakat maka akan semakin besar partai atau tokoh itu akan mendapat dukungan,” ucapnya.
Hasil survei LKSP tentang Konstalasi Politik Jelang Pemilu 2024 menunjukan tingkat popularitas partai baru masih minim. Dari 1.350 responden yang disurvei secara tatap muka diketahui tingkat popularitas Partai Ummat, Partai Buruh, Partai Gelora, Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) hanya mencapai 0,1 persen. Sementara Partai Garuda hanya mencapai 0 persen alias tidak ada yang mengenal.
