Pada kesempatan itu, Suharyanto mengingatkan bahwa pada Tahun 2015 dan 2019 kebakaran hutan dan lahan yang terjadi cukup masif. Tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga ekonomi, sosial, hingga kesehatan masyarakat.
“Oleh sebab itu, tahun ini kami mengajak seluruh personel yang hadir dapat turun langsung ke lapangan guna meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan agar kejadian di Tahun 2015 dan 2019 tidak terjadi kembali,” ujar Suharyanto.
Menjadi momentum untuk meningkatkan koordinasi antar kementerian lembaga maupun dinas di daerah untuk mengantisipasi potensi bencana karhutla.
“Mari sama-sama satukan pikiran dan tindakan untuk sama-sama bersatu padu, dari pusat hingga daerah untuk mengutamakan pencegahan sebelum kebakaran hutan dan lahan terjadi,” tukasnya.
Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, langkah pencegahan harus menjadi prioritas pemerintah pusat maupun daerah untuk mengantisipasi potensi karhutla.
Suharyanto menjelaskan, dalam satu bulan terakhir titik panas atau hotspot yang terdeteksi di Kalimantan Tengah mencapai 1.037 titik. Secara nasional, kebakaran hutan dan lahan terjadi sejak 1 Januari hingga hari ini tercatat mencapai 141 kali kejadian.

