“Itu mereka nyaman dengan Islam yang mereka dapatkan di kampus, karena tidak ada intimidasi, pemaksaan, tidak ada bully hanya karena beda kepercayaan. Mereka nyaman dengan toleransi Muhammadiyah,” tutur Fathur.
Terkait dengan ramainya perbincangan di jagat maya tentang Krismuha, Dosen Fakultas Agama Islam UMY ini mengira itu sebagai akibat dari lemahnya literasi, yang kemudian dihadapkan dengan realitas maya yang begitu rupa. Padahal istilah Krismuha ini biasa saja dan sudah lama ada di Muhammadiyah.
“Jadi teman-teman jangan terlalu baper dengan istilah ini. Ini istilah sosiologis, dan tidak ada kaitannya dengan teologis atau akida.” Tegasnya.
Berkaca dari kejadian tersebut, warganet khususnya yang berafiliasi dengan Muhammadiyah supaya tidak terlalu terbawa perasaan dan menganggap Muhammadiyah telah menyelisihi khittahnya. Supaya warganet juga memperkuat literasi mereka agar tidak mudah terbawa arus perbincangan. ***
