Mirzam melihat, bahwa masyarakat saat ini cenderung hanya waspada terhadap bahaya primer dari letusan gunung berapi seperti lava dan juga awan panas. “Namun, saat erupsinya selesai, kita menganggap bahwa kondisinya sudah aman. Padahal bahaya-bahaya sekunder masih mengintai dan membuat kita lengah,” ungkapnya.
Erupsi terakhir suatu gunung selalu meninggalkan material yang belum terkonsolidasi. Terkadang, jeda erupsi bisa mencapai waktu 6 bulan. Inilah yang membuat masyarakat merasa seolah aman sehingga tidak waspada dengan bahaya sekunder. Jika gunung terakhir meletus pada awal musim kemarau, maka lahar dingin pertama bisa terjadi pada awal musim hujan.
“Enam bulan kemudian masyarakat tidak tahu, terutama yang jauh dari kerucut gunung api, jadi yang jauh dari itu tidak mendapat informasi bahwa di hulu sana sedang hujan, akibatnya bisa kita lihat seperti di video yang tersebar, air tiba-tiba meluap saat orang masih di sekitar sungai,” ujarnya.
Namun, untuk menghasilkan banjir lahar dingin, suatu gunung harus memiliki volume material yang banyak sehingga terjadi tumpukan di gunung. “Jika kita punya banyak tapi tersebar luas, akibatnya kita tidak punya ketebalan tertentu sebagai bahan baku lahar. Sedangkan jika volumenya sedikit, tapi terus menumpuk bisa menjadi sesuatu yang banyak,” ujarnya. Tumpukan material ini bisa berasal dari letusan kecil gunung api yang terus terjadi secara repetitif.
