“Melalui jalur co-funding, para mahasiswa Indonesia akan mendapat kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pengalaman belajar di perguruan tinggi luar negeri terbaik selama satu semester dengan pembiayaan bersama antara pemerintah dan pihak mahasiswa secara mandiri,” ungkap Sri Gunani.
Hal ini, lanjutnya, menunjukkan gotong royong dalam pembiayaan program IISMA agar dapat memanfaatkan kuota
yang disediakan oleh perguruan tinggi mitra di luar negeri dengan tetap menjaga kualitas, khususnya untuk
memastikan keberhasilan studi (success rate) dan dampaknya pada capaian pembelajaran mahasiswa yang
menjadi peserta. “Jadi, pemerintah membiayai misalnya dari SPP, biaya registrasi, dan tiket perjalanan
internasionalnya. Kemudian dari pihak mahasiswa, misalnya orang tua atau pihak donatur, bisa membiayai living
allowance, tiket dalam negeri di negara tempat studi, kemudian asuransi dan visa. Kemarin di pleno dinyatakan
untuk tahun ini akan ada 300 mahasiswa yang siap diberangkatkan,” ujar Sri Gunani.
