“Berikan preseden bahwa pelaku begal bisa berujung ditembak mati di tempat. Artinya, ketika pelaku melakukan kejahatannya, dia tentu tahu risiko terburuk dari ulahnya itu,” ujarnya.
Kendati demikian, ia tetap berharap agar Polri pun tidak mengedepankan tindakan tembak mati, jika masih perlu bisa ditangkap saja atau dilumpuhkan. Namun jika sudah mengancam nyawa orang lain dan petugas, tembak mati bisa menjadi opsi yang tepat.
“Ya kalau masih bisa ditangkap saja lebih baik, kalau tidak ya bisa ditembak kakinya agar lumpuh pergerakan kejahatannya. Kalau tidak, mau bagaimana lagi, risiko mbegal,” tuturnya.
Lebih lanjut, ulama asal Malang Raya itu juga sekaligus memberikan kritikan kepada salah satu LSM yang memaksa agar Bobby Nasution meminta maaf atas pernyataannya. Sebab lembaga tersebut tidak setuju jika pelaku begal harus ditembak mati karena alasan kemanusiaan.
“Saya cuman berharap orang-orang KontraS tidak ada yang putus tangannya ditebas celurit begal. Itu saja saya kira respons saya untuk LSM itu,” pungkasnya.(Yudha Krastawan)

