Berangkat dari pemahaman tersebut, dakwah Muhammadiyah senantiasa mengajak, mendampingi kelompok-kelompok tersebut. Tafsir menegaskan, surga tidak boleh dimonopoli oleh sekelompok orang saja. Oleh karenanya, perlu pendampingan intensif ke kelompok tersebut misalnya dalam urusan fikih ibadah.
“Maka pendampingan kita ke sana adalah bagaimana kita memperlakukan mereka sebagai manusia yang berhak masuk surga serta membimbing mereka memahami fikih dalam beribadah,” imbuh Tafsir.
Berkaca dari realitas sosial tersebut, Tafsir memandang bahwa berdakwah tidak cukup dengan memahami Alquran dan Hadis semata. Melainkan juga budaya, ekonomi, sosial, politik, dan lainnya supaya dakwah yang dilakukan lebih efektif, efisien, dan berhasil.
“Jadi dakwah itu jangan hanya memahami ayat Alquran dan hadis saja, tapi dakwah pun harus memahami manusia. Kalau ingin dakwah berhasil, pahamilah manusianya,” pesan Tafsir.
Pada kesempatan ini, Tafsir juga menjelaskan tentang makna purifikasi dari bingkai kacamata Muhammadiyah. Hematnya, purifikasi Muhammadiyah bukan tekstualitas. Meski kembali kepada Alquran dan Sunnah, tetapi tetap membangun pikiran utama dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani.
