Tim riset Prof. Oh, setelah melakukan eksperimen pada tikus, membuktikan bahwa kelompok tikus yang mengonsumsi ginseng merah menunjukkan perubahan perilaku hingga 50 persen. Hal ini mengindikasikan ketergantungan fisik tikus ketimbang kelompok kontrol saat mengonsumsi morfin. Di sebuah lokasi eksperimen yang telah dikondisikan untuk mengevaluasi ketergantungan psikologis, kelompok tikus yang mengonsumsi ginseng merah memiliki skor tiga kali lebih rendah dari kelompok kontrol, atau secara drastis mengurangi ketergantungan psikologis yang ditimbulkan kecanduan obat.
Di sisi lain, riset ini mengungkap keterkaitan antara ginseng merah dan detoksifikasi pada hati. Kadar glutathione dalam hati, berkaitan dengan detoksifikasi, menunjukkan peningkatan pada kelompok tikus yang mengonsumsi ginseng merah. Padahal, kadar glutathione sempat menurun akibat kecanduan morfin. Hal tersebut menunjukan khasiat sekitar 90 persen dibandingkan kelompok kontrol.
Khasiat ginseng merah meningkatkan fungsi hati juga terus dikaji. Pada Oktober lalu, di sebuah konferensi akademik yang digelar Korean Society of Food Science and Nutrition di Busan, sejumlah temuan penting dipaparkan mengenai manfaat ginseng merah mengatasi penyakit perlemakan hati nonalkohol (non-alcoholic fatty liver).
