Setelah mendengar penjelasan Pendeta Gilbert, pimpinan MUI mengambil kesimpulan bahwa kegaduhan yang ditimbul akibat video khotbah yang dipenggal-penggal dalam editan, sehingga makna penyampaian dapat berpotensi terjadinya kesalahpahaman di masyarakat.
“Kami sebagai umat beragama tentu menerima permohonan maafnya. Kami semua memaafkan seraya kami meminta agar kejadian ini menjadi pelajaran baginya dan bagi kita semua,” jelas perwakilan MUI.
Selain menerima permintaan maaf, pimpinan MUI juga meminta agar kejadian ini menjadi pelajaran bagi Pendeta Gilbert dan semua pihak bahwa dalam berkhutbah atau berceramah tak perlu membandingkan keyakinan dan ritual agama lain, apalagi merendahkan demi menghindari terjadinya kesalahpahaman.
“Ke depan mari kita rajut keutuhan, persaudaraan, dan persatuan antarumat beragama serta saling menghormati keyakinan masing-masing kita demi menjaga kerukunan,” ucapnya. (Vinolla)
