Namun demikian bagi negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak dapat memiliki dampak negatif karena meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor ekonomi yang bergantung pada energi. Selain itu, kenaikan harga minyak juga dapat menyebabkan inflasi, mengurangi daya beli konsumen, dan menekan pertumbuhan konsumsi domestik.
Oleh karena itu, harga minyak memiliki efek yang kompleks dan bervariasi terhadap pertumbuhan ekonomi, tergantung pada struktur ekonomi dan status negara sebagai pengekspor atau pengimpor minyak.
Nilai Tukar dan Suku Bunga
Pemerintah sendiri sudah seharusnya mengantisipasi dampak harga minyak dan nilai tukar (forex) serta suku bunga pinjaman. Tingginya harga minyak dunia di pasar internasional, sebagai akibat dari memanasnya situasi geopolitik, tentu berdampak di sektor ekonomi terutama perbankan. Hal ini tentu saja memengaruhi secara signifikan nilai tukar rupiah yang semakin melemah di tengah dominasi dollar Amerika.
Imbasnya dari semua faktor di atas adalah inflasi tinggi yang memicu melemahnya daya beli masyarakat, suku bunga yang fluktuatif dan meningkatnya angka kredit macet (Non Performing Loan/NPL) perbankan. Belum lagi kondisi krisis iklim serta perang opini dan informasi dunia, juga bisa mengakibatkan tak hanya dampak ekonomi, namun juga politik dan sosial masyarakat.
