“Salah satunya sistem kekebalan tubuh tiap individu di suatu wilayah untuk menghadapi virus itu sendiri,” ujar Atina.
Lebih lanjut, gejala akibat infeksi FLiRT sendiri masih sama seperti dengan gejala yang ditimbulkan varian-varian sebelumnya. Gejala tersebut meliputi demam, sakit kepala, hingga kehilangan indra penciuman.
Adapun gejala lain yang lebih langka seperti perubahan warna pada jari kaki penderita akibat tropisme virus. “Tropisme ini adalah kemampuan virus dalam menginfeksi tipe sel tertentu atau dapat disebabkan respons sistem imun yang berlebihan,” jelasnya.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam ini juga mengungkapkan, subvarian FLiRT ini sebenarnya memiliki tingkat keganasan yang lebih rendah dari varian sebelumnya. Atina menyebutkan tingkat risiko hospitalisasi dan kematian akibat virus ini lebih kecil. Walau demikian, Atina tetap menganjurkan masyarakat untuk tetap waspada. “Kewaspadaan terhadap potensi penjangkitan ini dapat dilakukan dengan meningkatkan proteksi dan higienitas diri,” tekannya.

