Sementara, Action on Smoking and Health (ASH), sebuah kelompok lobi antitembakau di Inggris, mengatakan bahwa dalam 12 bulan pertama setelah larangan merokok di dalam ruangan diberlakukan, jumlah pasien rawat inap akibat serangan jantung berkurang 1.200, sehingga menghemat pengeluaran NHS hingga 8,4 juta poundsterling (sekitar Rp171,2 miliar).
Kelompok itu juga mengklaim bahwa dalam tiga tahun, diperkirakan jumlah anak yang dirawat di rumah sakit akibat asma berkurang 7.000.
Deborah Arnott, kepala eksekutif kelompok tersebut, mengatakan ada alasan kuat untuk memperluas larangan merokok.
“Merokok masih menjadi penyebab utama kematian dini dan menjadi penyebab dari separuh perbedaan harapan hidup sehat antara si kaya dan si miskin di masyarakat. Kerugian ekonomi di Inggris saja mencapai lebih dari 21 miliar [poundsterling]. Semakin banyak yang bisa kita lakukan untuk mengakhiri kebiasaan merokok, semakin baik pula kesehatan dan kesejahteraan semua orang,” ujarnya.
Akan tetapi, bagi industri jasa pelayanan, perluasan larangan merokok akan membawa bencana bagi bisnis mereka.
