Sebelumnya, drama juga terjadi di babak semifinal 1 antara DKI Jakarta dan Aceh. Sama-sama mengambil jalur putaran yang sama di boyan 3 dan 4, Aceh menyalip saat melakukan putaran di boyan terakhir dan finis lebih dahulu dari pada DKI.
Hanya saja, DKI langsung melakukan protes ke meja Dewan Juri. Menurut ofisial DKI, Zulham Peliang, mereka menemukan adanya pelanggaran dan indikasi jika boyan 2 terlepas.
Setelah melihat rekaman video dari juri serta dari pihak DKI Jakarta dari berbagai angle, Dewa Juri akhirnya memutuskan jika benar telah terjadi intensional contact (kontak yang disengaja) di lintasan oleh pedayung Aceh ke pedayung DKI. Protes DKI pun diterima, dan Aceh terpaksa harus menerima jika mereka gagal melangkah ke final A.
Aceh pun pada akhirnya berlapang dada dan tidak mengajukan banding. Mereka pun memutuskan tetap bertanding dengan Kalimatan Timur di final B untuk perebutan perunggu. Aceh pun finis terdepan. Para pedayung Aceh pun langsung menangis haru saat naik ke permukaan dan disambut oleh Kadispora Aceh Tenggara.
