“Tren ini terus meningkat setiap tahunnya,” kata Profesor Budi Haryanto, Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Kualitas BBM, lanjutnya, baik diesel maupun bensin yang saat ini disediakan di pasaran sebagian besar tidak memenuhi standar Euro 4/IV, diakibatkan kandungan sullfur yang sangat tinggi.
Kandungan sulfur yang tinggi ini berkontribusi secara signifikan kepada pencemaran udara, mengingat bahwa gas buang kendaraan bermotor merupakan penyumbang polusi terbesar di wilayah perkotaan khususnya Jabodetabek.
Indonesia sudah mengatur penerapan standar Euro4/IV dari sejak 2017 melalui Peraturan Menteri KLHK no 20 Tahun 2017. Hanya saja, implementasi dilakukan di sisi teknologi kendaraan saja, sedangkan pasokan BBM beredar di pasaran Indonesia, khususnya BBM bersubsidi, masih jauh dari standar Euro4/IV.
“Semua tipe BBM baik diesel maupun bensin yang ada di pasaran ini hanya memenuhi standar Euro1 dan ada beberapa memenuhi standar Euro3. Hanya satu memenuhi standard Euro4/IV yaitu Pertamax Turbo (bensin) dan Perta-DEX HQ (solar/diesel fuel), namun pasokannya sangat kecil sekitar 1% atau 400 rb KL/tahun dan bahkan Perta-DEX HQ malah diekspor semua ke Malaysia,” jelasnya.
