“(Houthi) di Yaman memblokir navigasi yang aman di Laut Merah dan itu memengaruhi Terusan Suez yang dulunya menghasilkan sekitar USD 10 miliar bagi Mesir,” tukas Sadek.
“Sekarang kita hanya mendapatkan $3 miliar, jadi ada kerugian besar sebesar 70 persen,” tambahnya.
Mesir tak hanya menderita kerugian akibat berkurangnya pendapatan dari Terusan Suez karena kapal-kapal berlayar di sekitar Tanduk Afrika untuk mencapai tujuan mereka.
Sullivan menjelaskan, Mesir juga terancam kekurangan gas alam “jika Israel menghentikan ekspor gasnya ke Mesir”.
Hal itu akan membuat pemerintah Mesir terpaksa mengimpor gas alam dengan harga jauh lebih tinggi.
Rakyat Mesir sudah terpuruk. Pemerintah telah menaikkan harga minyak bumi dan gas alam dua kali tahun ini, masing-masing sebanyak 15 persen. Tingkat inflasi Mesir secara keseluruhan telah mencapai 25 persen, dengan para analis menyalahkan lonjakan sebagian besar pada perang di Gaza.
Pendapatan pariwisata juga turun drastis karena konflik Gaza. Beberapa negara Barat telah memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Mesir atau negara-negara Timur Tengah lainnya. (Joesvicar Iqbal)
