Abdul berharap, teleskop raksasa ini akan digunakan untuk pengamatan satelit, karena teleskop tersebut memang potensial untuk tujuan itu.
Menurutnya, pengamatan satelit seringkali perlu dilakukan untuk membantu jika terjadi masalah pada satelit yang masih aktif beroperasi, sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan stasiun pengendali di Bumi (dengan kata lain jika terjadi contingency events).
Lebih lanjut Abdul menguraikan, teknik pengamatan maupun analisis yang sudah lama dikenal dalam pengamatan astronomi adalah astrometri, fotometri, dan spektroskopi. “Ini telah digunakan juga dalam pengamatan satelit dan sampah antariksa,” ungkapnya.
Teleskop astronomi untuk pengamatan satelit perlu memiliki slewing rate atau kecepatan bergerak yang cukup tinggi. Ini karena satelit dan sampahnya tergolong fast moving objects yang kecepatan geraknya di langit bisa berkali-kali lipat dari gerak bintang.
Para periset di Pusat Riset Antariksa BRIN telah melakukan pengamatan satelit dengan berbagai instrumen sejak 2014. Termasuk di dalamnya adalah binokuler dan kamera digital portabel. Kegiatan itu dilakukan dengan memakai berbagai perangkat lunak baik yang berbayar maupun yang tersedia bebas di internet.
