Meskipun ada beberapa atlet paralimpiade Indonesia yang memang sudah berlatih sejak kecil seperti Leani Ratri Oktila yang atlet bulu tangkis, namun karena kecelakaan lalu beralih menjadi atlet parabulu tangkis.
Selain itu, ada pula Ni Nengah Widiasih, peraih perak Olimpiade Tokyo cabang paraangkat berat yang memang sudah berlatih sejak usianya masih belia meski dia hidup dengan polio.
Yang membedakan dari atlet paralimpade adalah tekad. Keteguhan hati untuk berlatih jadi yang terbaik dalam keterbatasan fisik itulah yang membuat mereka bisa menjadi paralimpian, meski tidak melatih diri dalam satu cabang olahraga sejak kecil.
Di Peparnas Solo 2024, masyarakat Indonesia akan disuguhkan dengan perjuangan-perjuangan para atlet dengan tekad-tekad yang menyala.
Tuan Rumah Lima Kali
Solo tidak asing dengan PEPARNAS, karena kota ini telah menjadi tuan rumah sejak penyelenggaraan pertama pada 1957. Dari 17 kali pelaksanaannya, Solo telah menjadi tuan rumah sebanyak lima kali, yaitu pada 1957, 1959, 1964, 1980, dan 1984. Setelah 40 tahun, Solo kembali menjadi tuan rumah PEPARNAS XVII.
Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo menjelaskan bahwa Solo dipilih karena kesiapan kotanya, terutama dalam hal penyediaan venue dan penginapan yang ramah disabilitas. Kota ini juga pernah menjadi tuan rumah ASEAN Paragames 2022, sehingga infrastruktur dan fasilitasnya sudah memenuhi standar.
