“Dalam koleksi ini, saya ingin menunjukkan bahwa kain songket bukan hanya sehelai kain, tapi juga simbol identitas yang bisa relevan dalam gaya hidup modern. Dengan sentuhan kontemporer, saya harap wastra nusantara dapat diapresiasi lebih luas, baik di dalam negeri maupun di mancanegara,” kata Temma.
Sementara itu, Designer Maya Ratih memadukan keindahan kain warisan nusantara songket Palembang dengan bahan-bahan mewah seperti jacquard, velvet, taffeta dan linen, bukan hanya sebagai wujud pelestarian budaya, tetapi juga peran penting UMKM dalam menjaga dan memperkenalkan nilai tradisional serta pemberdayaan perempuan.
“Kain songket Palembang adalah warisan budaya sarat akan makna. Dalam koleksi ini, saya meramu elemen-elemen mewah untuk memberi kesan elegan tanpa melupakan akar tradisionalnya. Bagi saya, ini cara menampilkan kekayaan warisan lokal, sekaligus memberdayakan para perempuan yang bekerja di balik produksi kain ini,” jelas Maya.
Kolaborasi kreatif ini juga dimulai dari penyuluhan serta inspirasi desain dilakukan oleh Tata Rahmad Pribadi dan kedua designer kepada UMKM Wastra di Sumatera Selatan serta beberapa kota lainnya. Menghasilkan motif-motif kreasi baru dalam kain songket Palembang, seperti motif Setir Nahkoda Kapal dan motif Burung Phoenix. Keduanya memiliki makna filosofi kehidupan mendalam. (Joesvicar Iqbal)
