“Saya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Presiden Prabowo Subianto dan pemerintah Indonesia atas itikad baik mereka,” tambahnya.
“Kisah Mary Jane menyentuh hati banyak orang: seorang ibu yang terperangkap dalam cengkeraman kemiskinan, yang membuat satu pilihan di tengah keputusasaan yang mengubah jalan hidupnya. Meskipun ia dimintai pertanggungjawaban berdasarkan hukum Indonesia, ia tetap menjadi korban dari keadaannya sendiri,” ungkap Marcos.
Namun, tanggal pemulangan Mary Jane belum ditentukan. Pejabat di Filipina mengatakan kemungkinan hal ini terjadi sebelum Natal.
Marcos menekankan bahwa pemulangan Mary Jane mencerminkan kemitraan bilateral yang erat dengan Indonesia, seraya menambahkan bahwa kedua negara Asia Tenggara tersebut “berbagi komitmen terhadap keadilan dan belas kasih.”
Kasus Mary Jane menarik perhatian luas di Filipina, negara yang ekonominya sebagian besar ditopang oleh kiriman uang dari jutaan wargamya yang berprofesi sebagai pekerja migran.
Pada 1995, pekerja migran Filipina lainnya, Flor Contemplacion, dieksekusi di Singapura atas tuduhan pembunuhan meskipun pemerintah Filipina telah berulang kali mengajukan permohonan grasi. Peristiwa ini sempat memperburuk hubungan diplomatik antara kedua negara.

