“Aneh banget, Mron.”
“Mukamu aneh, Gung?”
“Woo nyerang fisik.”
“Okay maaf. Aneh gimana?”
“Kok bisa syariat Islam berubah hanya karena teknologi makin berkembang? Apakah nanti salat juga bisa berjamaah melalui Zoom meeting? Gausah haji ke Tanah Haram, cukup nonton YouTube aja. Gitu, Mron?”
“Bukan gitu, Gung. Rukyat ini bukan aspek ibadah. Jadi bisa aja diganti.”
“Diganti karena udah nggak relevan gitu?”
“Iyalah.”
“Kok liberal sekali pemikiranmu, Mron!”
“Kenapa jadi liberal, Guungggg?!” Imron mulai kesal.
“Faktanya Nabi emang pakai rukyat kan? Sejak awal emang beliau nggak ada pikiran buat bikin kalender!”
“Dengerin, Gung. Rasulullah pake rukyat karena itu metode paling gampang dan realistis buat umat waktu itu. Dalam hadis Bukhari-Muslim, Nabi bilang, ‘Kami umat ummi, tak bisa menulis, tak bisa hisab.’ Tapi sekarang, kita bukan umat ummi lagi, Gung. Ilmu hisab udah maju, teknologi udah mendukung.”
“Tapi, Mron, rukyat itu kan sunnah Rasulullah. Konteksnya beda, tapi esensinya tetep: kita ikut apa yang Nabi ajarkan. Kalo kita ganti hisab global, apa nggak kehilangan ruhnya?”