“Bukan ikut Saudi, Gung. Sejak awal kamu tuh nggak ngerti.”
“Makanya kasih tau!”
“Okay jadi gini, ini soal unifikasi kalender Islam. Kalau sekarang kalender Islam masih terpecah-pecah karena metode rukyat yang bersifat lokal, ya pasti puasa Arafah juga akan jatuh di hari yang berbeda-beda. Ini absurd.”
“Jadi bukan ikut Saudi?”
“Bukan, karena Saudi masih pakai rukyat!”
“Lalu, ikut siapa? Pep Guardiola? Ikut Pildacil?”
“Ikut demo!”
“Serius, Mron!”
“Gini, kita perlu KHGT yang bisa menetapkan tanggal yang sama untuk seluruh dunia. Karena rukyat nggak bisa menghasilkan kalender jangka panjang. Bahkan, Prof Tono Saksono pernah bilang, sesederhana apapun perhitungannya, sebuah kalender haruslah berbasis hisab, bukan rukyat.”
“Okay jadi salah satu fungsi KHGT itu buat nyelesain problem puasa Arafah?”
“Betul, Gung.”
Agung terdiam sejenak, mencoba mencerna argumen Imron.
Perdebatan ini bukan sekadar soal metode, tetapi juga bagaimana agama dan ilmu pengetahuan bisa berjalan beriringan. Di satu sisi, KHGT menjanjikan kepastian dan kesatuan umat, di sisi lain ada kekhawatiran bahwa hal ini akan mengabaikan tradisi rukyat yang telah diwariskan turun-temurun.