Namun Erlinda juga menyoroti pentingnya penguatan literasi digital dan karakter anak sejak dini, agar generasi perempuan dan Gen Z tidak hanya berdaya, tetapi juga bijak dan terlindungi.
Erlinda menyebutkan beberapa tantangan nyata yang dihadapi perempuan masa kini, antara lain, ketimpangan akses terhadap teknologi di daerah 3T. Kekerasan seksual dan perundungan daring yang masih tinggi.
Kemudian kurangnya kebijakan perlindungan anak dan perempuan berbasis data real time, keterbatasan peran Ibu dalam mendampingi anak di era gadget.
Dalam hal ini, Erlinda menekankan perlunya kerja sama lintas sektor, pemerintah harus menghadirkan program Sekolah Orang Tua Digital, sebagai sarana edukasi dan pendampingan. Keluarga perlu dijadikan subjek utama dalam program pengasuhan berbasis nilai dan kearifan lokal.
Lalu dunia pendidikan wajib memiliki kurikulum karakter yang menekankan pada penguatan identitas dan kontrol diri di tengah banjir informasi.
“Kalau dulu Kartini menulis dengan pena untuk menyuarakan emansipasi, kini anak-anak kita menulis lewat media sosial setiap hari. Maka, kita harus pastikan tulisan mereka adalah narasi perubahan, bukan luka,” imbuhnya.
