Ia menyebut bahwa ketatnya pembatasan membuat gereja dan alun-alun di sekitarnya nyaris kosong, sangat kontras dengan keramaian yang biasa terjadi pada perayaan Sabtu Suci setiap tahunnya. Ghattas juga melaporkan adanya kekerasan terhadap jemaat di dalam gereja.
Selain itu, ribuan umat Kristiani Palestina dari Tepi Barat dilaporkan dilarang masuk ke Yerusalem untuk mengikuti peringatan Sabtu Suci.
Sebagaimana terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, warga Palestina baik Kristen maupun Muslim wajib memiliki izin khusus untuk melintasi pos militer Israel demi dapat beribadah di tempat suci mereka seperti Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Kudus.
Tahun ini menjadi kali kedua secara berturut-turut umat Kristiani Palestina harus merayakan Pekan Suci dan Paskah dengan jumlah peserta yang sangat terbatas, di tengah meningkatnya agresi Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat sejak Oktober 2023.
Sejumlah gereja di Yerusalem pun membatalkan parade dan perayaan Paskah yang bersifat meriah. Ibadah dibatasi hanya pada misa dan ritual keagamaan internal tanpa prosesi publik.
