Maman menilai penerapan sistem syarikah dalam haji 2025 perlu dievaluasi secara menyeluruh oleh Kemenag.
Ia mempertanyakan dasar pemilihan delapan syarikah dari total 50 yang tersedia, serta perbedaan karakteristik masing-masing syarikah tersebut.
“Banyak hal yang perlu dijelaskan. Mengapa dari 50 syarikah hanya dipilih delapan? Dan mengapa kedelapan syarikah ini memiliki sistem yang berbeda-beda? Idealnya, satu syarikah cukup menangani 10 ribu jemaah dalam satu maktab. Saya tidak bisa membayangkan jika satu syarikah harus mengelola 25 ribu jemaah. Bagaimana dengan pengelolaan katering dan layanan lainnya?” paparnya.
Menjelang puncak pelaksanaan haji di kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), Maman berharap tidak terjadi kendala, khususnya terkait layanan transportasi dan konsumsi.
Dia meminta Kemenag dan Dirjen PHU memastikan seluruh kebutuhan jemaah telah dikomunikasikan secara rinci dengan Pemerintah Arab Saudi dan delapan syarikah yang ditunjuk.
“Kami khawatir akan terjadi kekacauan saat puncak haji, meskipun kami sangat berharap itu tidak terjadi dan bisa diantisipasi sejak dini. Pelayanan bus dan katering di Armuzna harus benar-benar dipastikan: apakah ditangani langsung oleh syarikah atau justru disubkontrakkan lagi? Ini harus jadi perhatian serius,” tegas Politisi Fraksi PKB ini.
