Selain meningkatkan akses informasi, Dachri menekankan bahwa pembangunan infrastruktur wisata juga menjadi fokus utama.
Ia menilai bahwa peningkatan fasilitas, seperti akses jalan dan area parkir, harus disiapkan agar wisatawan merasa nyaman saat berkunjung.
“Kami tidak ingin hanya sekadar mengenalkan potensi wisata sejarah tanpa kesiapan infrastruktur. Jika fasilitasnya memadai, wisatawan akan lebih tertarik datang dan mendapatkan pengalaman yang berkesan,” katanya.
Dengan konsep wisata berbasis edukasi ini, pemerintah kecamatan berharap bisa menarik minat wisatawan, khususnya pelajar dan peneliti sejarah, untuk datang dan belajar lebih dalam tentang perjuangan di Sangasanga.
“Kami ingin generasi muda lebih mengenal sejarah perjuangan bangsa, dan salah satu cara efektifnya adalah melalui pariwisata sejarah yang dikemas lebih menarik,” pungkasnya.(*)
