Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya saat musim hujan melanda wilayah Gunung Marapi, menimbulkan bencana lainnya yaitu banjir lahar dingin hingga menerjang pemukiman warga.
“Bulan Mei hujan deras, muncul banjir lahar dingin, mengakibatkan meninggal 67 orang yang mengungsi empat ribu lebih,” ujarnya.
Pasca dua kejadian itu, pemerintah langsung melakukan relokasi kepada warga yang tinggal di dalam radius atau zona berbahaya.
“Sebagian sudah direlokasi di Tanah Datar dan Agam relokasinya sudah selesai. Dicek lagi masing-masing daerah, masyarakat tinggal di kawasan risiko bencana jarak 7 sampai 8 kilometer dari puncak Gunung Marapi sudah tidak boleh lagi ada yang tinggal di situ,” tambahnya.
Pascabanjir lahar dingin BNPB memasang sensor dan sirine, untuk mencegah terjadinya potensi banjir lahar dingin ketika musim hujan lebat.
“Tempatnya di lokasi yang dijangkau masyarakat, mohon pemerintah daerah ikut mengawasi. Ini berguna ketika hujan deras akan timbul banjir lahar dingin, sirine akan berbunyi,” tandasnya.
