Nah, paling mudah dalam perkembangannya mulai di Indonesia sebagai pelaku perusahaan logistik fokus bagaimana meningkatkan lalu lintas barang dalam inter Asia Pasific supaya minim imbas dari pada situasi timur tengah dan Eropa timur.
Bagaimana Pelindo dan teman-teman pelaku usaha lain paling penting adalah ekosistem pelabuhan itu harus kuat lebih dari sekadar pelabuhan sebagai pintu masuk barang saja. Kejadiannya sering seperti sebelumnya dilihat ada bottleneck, barang susah keluar-masuk, dan pelabuhannya yang tidak penuh.
“Yang harus dipikirkan adalah bagaimana pelabuhan itu punya fasilitas dan infrastruktur memadai, tak hanya untuk kapal, tapi untuk barang yang sudah bisa dikirim ke darat. Nah itu yang harus dipikirin”.
Selama itu (Pelabuhan) tidak siap, pertama masalah bottleneck akan tetap ada. Kedua, nilai atau daya saing pelabuhan Indonesia dibandingkan pelabuhan-pelabuhan regional ASEAN masih minim.
“Boleh dicek di negara lain, pelabuhan di luar negeri punya fasilitas memadai, parkiran truknya cukup, gudang pelabuhan banyak, jalannya besar, jalan tolnya menyambung ke dalam pelabuhan besar. Jangan bandingkan Singapura terlalu jauh, bandingkan Thailand dan Vietnam saja bisa lebih siap,” ungkapnya.
