Seluruh sampah yang diperoleh dipilah menjadi organik dan anorganik, serta berdasarkan high value dan low value. Sampah tidak lagi dibuang, tetapi dikelola oleh mitra lokal untuk diolah menjadi barang bernilai ekonomi, mulai dari furnitur plastik, batako, hingga kerajinan tangan.
“Kami ingin menciptakan nilai tambah dari sampah agar dapat dimanfaatkan kembali dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Ini adalah bentuk nyata dari penerapan ekonomi sirkular yang kami dorong,” pungkas Gregorius. (Yudha Krastawan)
