“Kami main dengan berani di tie break. Kami mulai menyerang. Kalo bisa nembak duluan, pasti kami ambil. Kami mikir poin per poin aja. Satu demi satu, eggak ngebebanin sama menang-kalah, itu belakangan,” tutur kedua petenis belia yang sama-sama mengidolai Aryna Sabalenka secara bersahut-sahutan.
Alhasil, cukup sekali match point. Winner, buah dari forehand menyilang ke sudut kiri lapang tak terjangkau lawan.
Kemenangan ini, sayangnya, tidak mengerek peringkat Mischka. Poinnya tidak dapat terhitung lagi. Di nomor ganda, setiap pemain junior hanya mendapat jatah lima penampilan terbaiknya. Lima penampilan terbaik siswa ACS Jakarta ini pun sudah bernilai juara di entry-level kejuaraan resmi internasional.
Menyadari hal tersebut, Mischka pun bertekad untuk mengayunkan raket di level yang lebih tinggi. Mengingat Indonesia belum menyelenggarakan turnamen di atas J60, pemain tim nasional akan mengepakkan sayapnya ke kawasan Asia Tenggara. Tentu saja, latihannya akan lebih giat dan lebih tekun lagi.
