Selama program, mereka membagikan pengalamannya menjelajahi berbagai lokasi ikonik dan institusi penting di Malaysia.
“Hari pertama saya mengunjungi Putrajaya dan Matic, mengenal budaya dan tradisi Malaysia, lalu ke Universitas Malaya. Hari kedua adalah konferensi, kami mempresentasikan hasil paper tentang tantangan pemuda yang kami hadapi. Setelah itu, tour ke perusahaan multinasional Maybank. Hari terakhir, saya berkeliling ke Bukit Bintang, KLCC, dan Dataran Merdeka,” ungkapnya penuh antusias.
Sementara itu, Sultan Danish mengaku sangat terkesan dengan salah satu topik konferensi.
“Topik yang paling berkesan bagi saya adalah tentang Startlane, platform digital untuk menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan dunia kerja. Saya tertarik karena ini menyentuh isu nyata seperti pengangguran pemuda dan terbatasnya akses pelatihan serta mentoring, terutama di daerah terpencil, Menurut saya, pendekatan yang ditawarkan oleh Startlane sangat relevan dan inspiratif. Mereka tidak hanya fokus pada pelatihan teknis, tetapi juga mendukung pengembangan soft skill, membangun kepercayaan diri, dan menciptakan sistem dukungan komunitas. Dari topik ini, saya belajar bahwa teknologi bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk menciptakan kesempatan yang lebih adil bagi generasi muda.” ungkap Sultan.
