Namun, Tyas mengaku para relawan Pita Kuning mendapatkan tantangan dalam menjaga kesehatan mental anak pejuang kanker tidak bisa menjaganya selama 24 jam. Ketika mereka kembali ke lingkungannya belum tentu mereka bisa diterima dengan baik di lingkungannya.
“Tugas kami menghapus stigma itu, karena selama ini kanker masih dianggap penyakit menular untuk sebagian orang. Terutama dari lingkungan yang tingkat pendidikannya rendah. Menengah ke bawah,” imbuhnya.
Tyas menyebutkan, utamanya bagi anak pejuang kanker yang secara fisik ada perubahan, misalkan ada benjolan dan luka terbuka.
“Mereka cenderung mendapat bully, diasingkan temannya. Jadi mereka tak punya kesempatan untuk bermain. Itu juga salah satu yang jadi tantangan kami untuk bisa mengedukasi ke masyarakat bahwa kanker ini tidak menular. Agar anak pejuang kanker bisa berkegiatan seperti anak lain pada umumnya, mungkin secara ketahanan tubuh mudah lelah. Tetapi secara kognitif seperti anak normal,” tandasnya.
Hal ini dapat dilihat sendiri seperti pada edukasi belajar bersama anak-anak pejuang kanker dan kumpul bersama keluarga dalam Piknik Edukatif di Kidzania Mall Pacific Place ini.

