“Kita tidak hanya berbicara tentang sains dan syariat, tetapi juga tentang persaudaraan umat. Sinkronisasi ini membuka jalan untuk penyatuan kalender hijriah di kawasan regional dan, ke depan, mungkin global,” jelasnya.
Peran teknologi modern turut memperkuat validitas data rukyat. Perangkat teleskop digital, citra CCD, dan simulasi hilal memungkinkan akurasi yang lebih tinggi. Hal tersebut membuat proses penetapan bukan hanya soal tradisi dan otoritas, tetapi juga sains yang teruji.
Ke depan, Kemenag berkomitmen memperkuat edukasi publik agar masyarakat memahami dasar penetapan awal bulan kamariah. “Ini bukan hanya persoalan melihat hilal ada akhirnya, tetapi bagaimana kita menguatkan literasi keilmuan falak,” pungkas Izzudin. (ahmad)
