“Jadi kami apresiasi teman-teman di Yogyakarta yang selama ini telah membantu menyelenggarakan event yang baik. Khususnya terhadap Rakyat Jogja, kami ucapkan banyak-banyak terima kasih,” lanjutnya.
Meski bangga dengan antusiasme yang kuat di Jogjakarta, Budisatrio menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penguatan ekosistem bola basket di Kota Gudeg ini.
“Kita sadar bahwa masih ada keterbatasan seperti lapangan yang perlu kami sikapi, perangkat pertandingan, wasit, pelatih, table official, statistik sampai ke infrastruktur, serta sarana dan prasarana butuh perhatian supaya bola basket ini bisa lebih berkembang lagi,” jelas Budisatrio.
Atas kendala yang masih menyelimuti Yogyakarta, Budisatrio berpesan bahwa semangat tetap harus dikobarkan. Selanjutnya bekerja secara sinergis dan kolaborasi membangun ekosistem bola basket ke depan.
“Karena tidak mungkin DPP PERBASI mengeluarkan program yang tidak ada manfaatnya untuk Jogja,” jelasnya.
DPP PERBASI butuh sinergi dengan pengurus di daerah karena di depan sudah ditunggu ajang internasional untuk kejuaraan kelompok umur. Pada 2028 nanti, Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Basket Putri U17. Lalu pada 2029, giliran Piala Dunia U19 khusus untuk atlet putra.
