Haidar Alwi menilai bahwa banyak masyarakat belum memahami bagaimana budaya populer bisa menjadi jalur masuk bagi pergeseran ideologi. “Simbol itu bahasa nilai. Kita tidak bisa anggap netral ketika bendera fiksi mulai mengambil alih tempat sakral dalam ruang publik,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa pertarungan ideologi di era digital bukan lagi berlangsung lewat propaganda keras, tapi lewat tontonan, estetika, dan simbol yang dianggap remeh.
Haidar Alwi menyebut langkah Sufmi Dasco Ahmad sebagai bentuk kewaspadaan yang seharusnya ditiru banyak pemimpin. Ketika Dasco menyebut ada indikasi sistematis dalam fenomena ini, ia tidak sedang mencari sensasi, melainkan berusaha melindungi makna nasionalisme dari pelunturan yang samar namun membahayakan.
“Tidak mudah bersuara di tengah dominasi budaya global. Tapi justru itulah perlunya keberanian moral. Dan saya menilai Pak Dasco sudah menunjukkannya,” ujar Haidar Alwi.
Ia menambahkan, banyak elite politik hari ini terlalu fokus pada isu besar yang viral, tapi abai terhadap isu kecil yang merusak dari dalam. Padahal, justru hal kecil seperti simbol, bahasa, dan visualisasi publik itulah yang membentuk arah psikologi kolektif. “Kita bisa kehilangan orientasi jika simbol-simbol bangsa mulai digantikan oleh tokoh-tokoh asing yang tidak merepresentasikan nilai-nilai kita,” tegasnya.
