Meski mengapresiasi kewaspadaan terhadap simbol asing, Haidar Alwi juga mengingatkan bahwa solusi tidak cukup dengan melarang atau mencela. Yang lebih penting adalah membangun rasa bangga terhadap simbol bangsa melalui pendekatan kreatif, edukatif, dan inspiratif. Ia mendorong lahirnya karakter fiksi lokal yang kuat, film nasionalis berkualitas, dan konten budaya digital yang mampu menandingi daya tarik budaya luar.
“Kita tidak boleh hanya jadi pasar simbol. Kita harus mulai memproduksi imajinasi sendiri. Kalau Jepang punya Luffy, kenapa Indonesia tidak bisa punya karakter pahlawan lokal yang digemari dunia?” ungkapnya.
Menurut Haidar Alwi, generasi muda tidak salah karena menyukai anime, tapi negara akan salah jika tidak menyediakan alternatif yang membanggakan.
Ia menegaskan bahwa peringatan Dasco harus dijadikan titik tolak pembenahan, bukan polemik. Sebab bangsa besar tidak hanya mempertahankan tanahnya, tapi juga imajinasi anak-anaknya. “Kalau simbol negara bisa digeser oleh simbol fiksi, maka arah berpikir bangsa ini akan digiring tanpa sadar,” katanya lagi.
