Oleh: Samdi Yarsono,
Mahasiswa Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB-University
IPOL.ID – Banjir bandang yang melanda wilayah Sumatra bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ia adalah rangkaian peringatan ekologis yang menyingkap hubungan rapuh antara manusia, lingkungan, dan tata kelola kehidupan. Sungai yang meluap secara tiba-tiba, longsoran tanah dari perbukitan gundul, serta arus deras yang menyeret rumah dan ternak, menghadirkan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar: mengapa bencana terasa semakin sering dan semakin merusak? Dalam konteks inilah, kisah Nabi Nuh AS menjadi relevan bukan hanya sebagai cerita spiritual, tetapi sebagai pelajaran mitigasi bencana yang sarat makna rasional, ekologis, dan etis.
Dalam tradisi keagamaan, kisah Nabi Nuh AS dikenal sebagai narasi tentang banjir besar yang menenggelamkan peradaban manusia yang ingkar dan abai terhadap peringatan Tuhan. Namun, jika dibaca dengan kacamata kontemporer, kisah ini menyimpan pesan yang sangat modern: peringatan dini, perencanaan matang, desain teknologi yang tepat guna, serta kepedulian lintas spesies. Allah SWT tidak sekadar mengabarkan akan datangnya bencana, tetapi juga mengajarkan langkah-langkah mitigasi melalui perintah membangun kapal—sebuah instruksi yang menuntut ilmu, ketekunan, dan visi jangka panjang.
Banjir Bandang Sumatra: Gejala Alam atau Akumulasi Kesalahan?
Banjir bandang di Sumatra umumnya dipicu oleh hujan ekstrem yang jatuh dalam waktu singkat di daerah hulu. Namun, hujan saja tidak cukup menjelaskan daya rusak yang ditimbulkannya. Kerusakan hutan, alih fungsi lahan, tambang terbuka, dan permukiman yang merangsek ke sempadan sungai telah menghilangkan fungsi alami lanskap sebagai penyangga air. Tanah kehilangan daya serap, sungai kehilangan ruang luap, dan air kehilangan jalur yang aman. Ketika hujan turun, energi air terakumulasi dan dilepaskan sekaligus—menjadi banjir bandang.
