Dalam perspektif ilmiah, ini adalah kegagalan mitigasi struktural dan non-struktural. Dalam perspektif etis, ini adalah kegagalan kolektif menjaga amanah bumi. Di sinilah kisah Nabi Nuh AS memberi cermin: sebelum banjir datang, peringatan telah disampaikan. Namun, peringatan itu diabaikan oleh banyak orang, hingga akhirnya bencana menjadi keniscayaan.
Peringatan Dini dan Kepatuhan Ilmu
Salah satu pelajaran paling kuat dari kisah Nabi Nuh AS adalah pentingnya peringatan dini dan respons berbasis ilmu. Perintah untuk membangun kapal datang jauh sebelum hujan turun. Artinya, mitigasi bencana tidak dimulai saat bencana terjadi, melainkan jauh sebelumnya—ketika tanda-tanda awal telah terlihat. Dalam konteks Sumatra, tanda-tanda itu nyata: deforestasi masif, banjir musiman yang meningkat, dan longsor berulang di titik yang sama. Namun, sering kali respons kebijakan bersifat reaktif, bukan preventif.
Nabi Nuh AS tidak menunda, tidak menawar, dan tidak menertawakan risiko. Ia membangun kapal di daratan, sebuah tindakan yang pada masanya dianggap aneh dan tidak masuk akal. Namun, justru “ketidakmasukakalan” itulah yang menyelamatkan. Pesan ini relevan bagi pengelolaan bencana modern: mitigasi sering kali tidak populer, mahal di awal, dan tampak berlebihan—tetapi menjadi penentu keselamatan di akhir.
Desain Kapal: Teknologi, Fungsi, dan Keberagaman Hayati

